Skip to main content

Posts

Ramadan Tetaplah Ramadan

Tahun ini Ramadan terasa berbeda, lebih istimewa. Suasana khas Ramadan yang setiap tahun dialami, kali ini tak lagi terasa. Semua dilakukan dari rumah. Tadarus di rumah, tarawih di rumah, sahur dan berbuka di rumah. Sebetulnya suasana ini sudah kita rasakan sebulan terakhir. Bekerja, belajar, dan beribadah dianjurkan dilakukan di rumah. Bersyukurlah bagi kita yang memiki privilege itu, ketika sebagian saudara-saudara kita tidak dapat merasakannya.  Sebulan terakhir, kita dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi seperti ini. Kondisi yang mengharuskan kembali pada esensi dan hal yang betul-betul krusial. Bukan sekadar sensasi atau demi status sosial. Jadi sadar pentingnya menjaga kesehatan yang mungkin selama ini disepelekan. Membeli sesuatu karena fungsi bukan karena gengsi. Belanja sesuai kebutuhan supaya orang lain kebagian. Belajar kembali makna empati dan peduli meski jarak memisahkan. Berbagi pada yang membutuhkan walaupun kita juga kesusahan. Kondisi ini juga jadi momentum untuk ...
Recent posts

Yang Tak Tersorot

Kekaguman kita kerapkali tertuju pada mereka yang tampil di atas panggung. Mereka yang menawan di bawah sorotan lampu dengan segala kelebihan yang tampak. Elok parasnya, ramah tuturnya, merdu nyanyiannya, kuat pengaruhnya. Seakan-akan semesta memang tercipta untuknya. Padahal jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tersorot atau mungkin memang enggan disorot. Yang ikhlas bekerja untuk keluarganya. Yang selalu ada menjadi tempat cerita. Yang terus mendukung tanpa sedikitpun menghitung. Yang menuntaskan amanah meski amat lelah. Yang sibuk memberi dan berbagi tanpa pamrih, tanpa publikasi. Orang-orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya. Barangkali ada di sekitar kita. Kita saja yang sering melewatkannya. Atau terlambat menyadarinya. Orang-orang seperti itu bukannya tidak peduli terhadap pribadi. Justru mereka sudah selesai dengan urusannya sendiri. Merasa cukup dengan nikmat yang Dia beri. Seraya menyerahkan hidup-mati pada Yang Maha Menguasai. Orang-orang seperti itu tidak s...

Melewatkanmu

Bagaimana jika ternyata puasa kita sia-sia? Tidak mendapat apa pun kecuali lapar dan dahaga. Sebab kebiasaan kita adalah berucap dusta dan berlaku tiada guna. Bagaimana jika ayat-ayat yang kita baca ternyata tidak berpahala? Lisan basah namun hati gelisah. Rajin merapal tapi alpa beramal. Bagaimana jika salat tarawih kita ternyata tidak diterima? Sekadar euforia sesaat dan ritual musiman saja. Kemudian kita justru sibuk belanja dan terlena jelang hari raya. Bagaimana jika ternyata infaq dan sedekah kita ternyata membuat celaka? Memberi karena ujub dan riya'. Bederma hanya supaya dilihat manusia. Bagaimana jika iftar yang kita hadiri ternyata jadi ladang dosa? Asyik bergosip ria sampai lalai dengan kewajiban kita. Dekat dengan kerabat dan kolega namun makin jauh dari ridha-Nya. Bagaimana jika Ramadan ini tidak bernilai apa-apa bagi kita? Ia sekadar berlalu dan kita melewatkannya begitu saja. Bagaimana jika kali ini adalah Ramadan terakhir kita? Sementara tidak ada jamin...

Waktu Magrib

Kalau waktu magrib punya perasaan, mungkin ia berbahagia sekali tiap bulan Ramadan tiba. Sebab pada bulan ini ia begitu diperhatikan, ditunggu, dan diharap kehadirannya oleh muslim seluruh dunia. Kalau saja kita tahu bahwa waktu magrib bisa berdoa, mungkin ia berharap seluruh bulan adalah Ramadan. Sebab pada bulan inilah keberadaannya paling terasa. Kebermanfaatannya nyata bagi mereka yang beriman pada-Nya. Kalau waktu magrib bisa bicara, mungkin ia ingin menjelaskan dan menyadarkan umat Islam di mana pun berada. Bahwa ia tetap ada meski Ramadan usai. Bahwa ia akan senantiasa hadir sampai Tuhan berkata cukup dan selesai.

Selepas Ramadan

Malam-malam kita tak lagi syahdu. Tak seperti malam lalu ketika kita menikmati lantunan ayat suci dalam tahajud dan tarawih. Larut dalam takarub dan munajat kepada ilahi. Magrib kita tak lagi ditunggu. Tak seperti magrib-magrib yang lalu tatkala kita menanti kumandang merdu. Berzikir dan berdoa sampai tiba waktu berbuka. Lidah kita tak lagi fasih, justru kebas dan kelu. Tak seperti kemarin ketika kita membaca firman-Nya tiada letih. Menghafal setiap ayat dengan gigih. Beradu khatam berulang kali. Masjid dan surau kita tak lagi penuh. Tak seperti hari yang telah lalu saat tiba shalat lima waktu. Atau ketika kita berkumpul dalam kajian agama dan majelis-majelis ilmu. Lantas, bagaimana kita hari ini? Adakah yang tersisa dalam diri kita selepas bulan keberkahan itu? Kebaikan apa yang membekas selepas Ramadan? Apakah amal-amal saleh kita lenyap seiring berganti bulan? Bukankah azan yang bulan kemarin kita dengar adalah seruan yang sama hari ini? Bukankah masjid yang bulan kemarin...

Ramadan Buat Apa?

Kalau di bulan Ramadan kita masih sempat bermalas-malasan tilawah, bagaimana di luar Ramadan? Kalau di bulan yang penuh berkah ini kita enggan sedekah, bagaimana di bulan-bulan yang lain? Kalau di bulan yang setan-setan dibelenggu saja kita masih gampang bermaksiat, bagaimana di bulan lain yang godaannya justru lebih dahsyat? Kalau di bulan ini kita masih suka membuang waktu untuk hal yang sia-sia, lantas kapan kita bisa jadi umat yang produktif? Jadi, Ramadan ini buat apa?

Perjalanan Hidup

Perjalanan kita menjadi pantas diikhtiarkan sebab kita tahu betul kemana kita akan menelusuri arah. Meski dalam prosesnya akan banyak sekali onak dan duri. Namun, tapak kaki kita terlalu kuat untuk menjejak. Perjalanan ini akan terus kita perjuangkan. Walau di persimpangan nanti kita mungkin berjumpa kawan yang perjalanannya terlihat lebih menyenangkan. Tak sedikitpun goyah apalagi kalah. Karena kita sadar setiap kita memiliki zona waktunya masing-masing. Langkah-langkah kecil kita pantang surut, tak kenal henti. Kendati kita seolah merasa berjalan menuju tak berujung. Tapi kita percaya setiap yang memiliki awal akan berakhir. Betapa perjalanan kita menyajikan hikmah yang begitu melimpah. Tentang bagaimana menjiwai aktivitas dengan sepenuh hati. Tentang belajar melepaskan sesuatu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Tentang meninggalkan kenyamanan yang melenakan. Perjalanan memang selayaknya membuat kita bertumbuh. Sebab ujian-ujian perjalanan yang berhasil kita lalui adalah a...