Tahun ini Ramadan terasa berbeda, lebih istimewa. Suasana khas Ramadan yang setiap tahun dialami, kali ini tak lagi terasa. Semua dilakukan dari rumah. Tadarus di rumah, tarawih di rumah, sahur dan berbuka di rumah. Sebetulnya suasana ini sudah kita rasakan sebulan terakhir. Bekerja, belajar, dan beribadah dianjurkan dilakukan di rumah. Bersyukurlah bagi kita yang memiki privilege itu, ketika sebagian saudara-saudara kita tidak dapat merasakannya. Sebulan terakhir, kita dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi seperti ini. Kondisi yang mengharuskan kembali pada esensi dan hal yang betul-betul krusial. Bukan sekadar sensasi atau demi status sosial. Jadi sadar pentingnya menjaga kesehatan yang mungkin selama ini disepelekan. Membeli sesuatu karena fungsi bukan karena gengsi. Belanja sesuai kebutuhan supaya orang lain kebagian. Belajar kembali makna empati dan peduli meski jarak memisahkan. Berbagi pada yang membutuhkan walaupun kita juga kesusahan. Kondisi ini juga jadi momentum untuk ...
Kekaguman kita kerapkali tertuju pada mereka yang tampil di atas panggung. Mereka yang menawan di bawah sorotan lampu dengan segala kelebihan yang tampak. Elok parasnya, ramah tuturnya, merdu nyanyiannya, kuat pengaruhnya. Seakan-akan semesta memang tercipta untuknya. Padahal jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tersorot atau mungkin memang enggan disorot. Yang ikhlas bekerja untuk keluarganya. Yang selalu ada menjadi tempat cerita. Yang terus mendukung tanpa sedikitpun menghitung. Yang menuntaskan amanah meski amat lelah. Yang sibuk memberi dan berbagi tanpa pamrih, tanpa publikasi. Orang-orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya. Barangkali ada di sekitar kita. Kita saja yang sering melewatkannya. Atau terlambat menyadarinya. Orang-orang seperti itu bukannya tidak peduli terhadap pribadi. Justru mereka sudah selesai dengan urusannya sendiri. Merasa cukup dengan nikmat yang Dia beri. Seraya menyerahkan hidup-mati pada Yang Maha Menguasai. Orang-orang seperti itu tidak s...