Tahun ini Ramadan terasa berbeda, lebih istimewa. Suasana khas Ramadan yang setiap tahun dialami, kali ini tak lagi terasa. Semua dilakukan dari rumah. Tadarus di rumah, tarawih di rumah, sahur dan berbuka di rumah. Sebetulnya suasana ini sudah kita rasakan sebulan terakhir. Bekerja, belajar, dan beribadah dianjurkan dilakukan di rumah. Bersyukurlah bagi kita yang memiki privilege itu, ketika sebagian saudara-saudara kita tidak dapat merasakannya. Sebulan terakhir, kita dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi seperti ini. Kondisi yang mengharuskan kembali pada esensi dan hal yang betul-betul krusial. Bukan sekadar sensasi atau demi status sosial. Jadi sadar pentingnya menjaga kesehatan yang mungkin selama ini disepelekan. Membeli sesuatu karena fungsi bukan karena gengsi. Belanja sesuai kebutuhan supaya orang lain kebagian. Belajar kembali makna empati dan peduli meski jarak memisahkan. Berbagi pada yang membutuhkan walaupun kita juga kesusahan. Kondisi ini juga jadi momentum untuk ...
Tentang pengalaman, pemikiran, dan gagasan