Skip to main content

Ramadan Tetaplah Ramadan

Tahun ini Ramadan terasa berbeda, lebih istimewa. Suasana khas Ramadan yang setiap tahun dialami, kali ini tak lagi terasa. Semua dilakukan dari rumah. Tadarus di rumah, tarawih di rumah, sahur dan berbuka di rumah. Sebetulnya suasana ini sudah kita rasakan sebulan terakhir. Bekerja, belajar, dan beribadah dianjurkan dilakukan di rumah. Bersyukurlah bagi kita yang memiki privilege itu, ketika sebagian saudara-saudara kita tidak dapat merasakannya. 

Sebulan terakhir, kita dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi seperti ini. Kondisi yang mengharuskan kembali pada esensi dan hal yang betul-betul krusial. Bukan sekadar sensasi atau demi status sosial. Jadi sadar pentingnya menjaga kesehatan yang mungkin selama ini disepelekan. Membeli sesuatu karena fungsi bukan karena gengsi. Belanja sesuai kebutuhan supaya orang lain kebagian. Belajar kembali makna empati dan peduli meski jarak memisahkan. Berbagi pada yang membutuhkan walaupun kita juga kesusahan.

Kondisi ini juga jadi momentum untuk mengatur ulang kehidupan menuju kenormalan yang baru atau istilah kerennya the new normal. Segala hal yang berbau digital menjadi viral. Komunikasi virtual jadi lebih sering. Orang-orang semakin banyak yang berjualan di internet. Kelas-kelas online bermunculan seperti jamur di musim penghujan. Setiap orang mesti beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang datang dan berubah begitu cepat. Sesiapa yang gagal menyesuaikan diri, siap-siap tertinggal.

Nah, sebulan ke depan, kita memasuki bulan Ramadan dengan rasa dan suasana yang tidak biasa. Mungkin tahun-tahun yang lalu kita semangat ibadah karena lingkungan rumah/kampus/kantor memang mendukung untuk ibadah. Mushola dekat rumah ramai, kita jadi semangat ke mushola. Teman baca Alquran, kita ikutan baca Alquran. Orang-orang sholat tepat waktu, kita juga ikut tepat waktu. Teman-teman itikaf di masjid, kita pun gabung. Tapi Ramadan kali ini lain cerita. Ramadan ini adalah tentang diri kita.

Masjid tak lagi ramai. Semua aktivitas khas Ramadan dilakukan di rumah. Pemicu-pemicu eksternal untuk beribadah kini jauh berkurang. Praktis motivasi itu datangnya dari kemauan diri sendiri. Apakah kita tetap sholat tepat waktu? Apakah kita tetap konsisten tarawih? Apakah kita tetap semangat mengikuti kajian-kajian? Dan apakah-apakah lainnya.

Masa pandemi pada Ramadan tahun ini seyogianya membuat kita introspeksi. Kembali menyelami diri sendiri. Tentang hakikat aktivitas-aktivitas kita. Untuk kebermanfaatan umat manusia atau untuk keuntungan pribadi semata. Juga tentang makna ibadah ritual Ramadan. Bersebab ramainya suasana atau karena niat di hati kita. 

Hiruk pikuk manusia kini untuk sementara tak lagi di dunia nyata, tetapi beralih ke dunia maya. Dalam gawai kita, dalam genggaman kita. Pandemi ini boleh saja menjauhkan kita dari sesama manusia, sementara. Tapi jangan sampai menjauhkan kita dengan pencipta alam semesta. Karena sesungguhnya Allah itu dekat.

Bagaimanapun kondisi dan suasananya, Ramadan tetaplah Ramadan. Bulan penuh rahmat, berkah, ampunan dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Semoga Allah masih bermurah hati memberikan kemudahan untuk kita beribadah. Semoga Ramadan ini menjadi momen transformasi kita menjadi sebaik-baiknya hamba, sebaik-baiknya muslim, sebaik-baiknya mukmin. Semoga Allah masih menjadi yang pertama.

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup

Perjalanan kita menjadi pantas diikhtiarkan sebab kita tahu betul kemana kita akan menelusuri arah. Meski dalam prosesnya akan banyak sekali onak dan duri. Namun, tapak kaki kita terlalu kuat untuk menjejak. Perjalanan ini akan terus kita perjuangkan. Walau di persimpangan nanti kita mungkin berjumpa kawan yang perjalanannya terlihat lebih menyenangkan. Tak sedikitpun goyah apalagi kalah. Karena kita sadar setiap kita memiliki zona waktunya masing-masing. Langkah-langkah kecil kita pantang surut, tak kenal henti. Kendati kita seolah merasa berjalan menuju tak berujung. Tapi kita percaya setiap yang memiliki awal akan berakhir. Betapa perjalanan kita menyajikan hikmah yang begitu melimpah. Tentang bagaimana menjiwai aktivitas dengan sepenuh hati. Tentang belajar melepaskan sesuatu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Tentang meninggalkan kenyamanan yang melenakan. Perjalanan memang selayaknya membuat kita bertumbuh. Sebab ujian-ujian perjalanan yang berhasil kita lalui adalah a...

Ujian

Ujian merupakan keniscayaan yang dihadapi setiap makhluk-Nya. Entah itu ujian kenikmatan ataupun ujian kesukaran, ujian yang menuntut kesyukuran maupun ujian yang membutuhkan kesabaran. Sesulit apapun ujian yang kita terima, yakinlah ujian itu memang untuk kita. Jika terasa berat, maka sesungguhnya kita sedang dipaksa untuk mengeluarkan kemampuan terbaik kita yang mungkin selama ini tersimpan tak digunakan. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kadar kemampuannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Pun dengan iman. Keimanan kita akan diuji sesuai dengan kadarnya. Ujian bagi iman yang lemah tidak akan jauh dari hal-hal kecil. Begitu juga sebaliknya, iman yang kuat akan diuji dengan hal yang lebih serius. Kita tahu bahwa iman yang kuat adalah lebih utama. Sungguh malang bila kita terus disibukkan oleh masalah sepele yang tak kunjung usai. Maka curigalah bila kita tidak jua beranjak dari masalah-masalah yang kecil dan mudah. Karena semakin tinggi pohon akan semaki...

Ramadan Buat Apa?

Kalau di bulan Ramadan kita masih sempat bermalas-malasan tilawah, bagaimana di luar Ramadan? Kalau di bulan yang penuh berkah ini kita enggan sedekah, bagaimana di bulan-bulan yang lain? Kalau di bulan yang setan-setan dibelenggu saja kita masih gampang bermaksiat, bagaimana di bulan lain yang godaannya justru lebih dahsyat? Kalau di bulan ini kita masih suka membuang waktu untuk hal yang sia-sia, lantas kapan kita bisa jadi umat yang produktif? Jadi, Ramadan ini buat apa?