Malam-malam kita tak lagi syahdu. Tak seperti malam lalu ketika kita menikmati lantunan ayat suci dalam tahajud dan tarawih. Larut dalam takarub dan munajat kepada ilahi.
Magrib kita tak lagi ditunggu. Tak seperti magrib-magrib yang lalu tatkala kita menanti kumandang merdu. Berzikir dan berdoa sampai tiba waktu berbuka.
Lidah kita tak lagi fasih, justru kebas dan kelu. Tak seperti kemarin ketika kita membaca firman-Nya tiada letih. Menghafal setiap ayat dengan gigih. Beradu khatam berulang kali.
Masjid dan surau kita tak lagi penuh. Tak seperti hari yang telah lalu saat tiba shalat lima waktu. Atau ketika kita berkumpul dalam kajian agama dan majelis-majelis ilmu.
Lantas, bagaimana kita hari ini? Adakah yang tersisa dalam diri kita selepas bulan keberkahan itu? Kebaikan apa yang membekas selepas Ramadan? Apakah amal-amal saleh kita lenyap seiring berganti bulan?
Bukankah azan yang bulan kemarin kita dengar adalah seruan yang sama hari ini?
Bukankah masjid yang bulan kemarin kita datangi masih menjadi tempat ibadah agama kita hari ini?
Bukankah Alquran yang bulan kemarin kita baca masih menjadi kitab yang kita percayai hari ini?
Bukankah Allah yang bulan kemarin kita sembah dan yakini adalah Tuhan yang sama yang kita imani hari ini?
Padahal tiada seorang pun yang berani memastikan bahwa seluruh amal ibadah dan kebaikan kita di bulan lalu diterima Allah. Jangan-jangan kita merugi. Atau malah celaka. Sebab dosa-dosa kita ternyata belum diampuni.
Para sahabat nabi mengajarkan agar menjaga dan merawat Ramadan dalam hati kita dengan rasa khauf dan raja'; khawatir dan terus berharap. Kemudian berupaya istiqamah dalam amal-amal saleh sehingga mewujud menjadi kebiasaan dan akhlak yang mulia.
Kun rabbaniyyan, wa la takun ramadhaniyyan.
Semoga kita menjadi insan rabbani, yang konsisten beribadah di setiap waktu. Bukan insan ramadani, yang kuat beribadah hanya kala Ramadan tiba.
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.
Magrib kita tak lagi ditunggu. Tak seperti magrib-magrib yang lalu tatkala kita menanti kumandang merdu. Berzikir dan berdoa sampai tiba waktu berbuka.
Lidah kita tak lagi fasih, justru kebas dan kelu. Tak seperti kemarin ketika kita membaca firman-Nya tiada letih. Menghafal setiap ayat dengan gigih. Beradu khatam berulang kali.
Masjid dan surau kita tak lagi penuh. Tak seperti hari yang telah lalu saat tiba shalat lima waktu. Atau ketika kita berkumpul dalam kajian agama dan majelis-majelis ilmu.
Lantas, bagaimana kita hari ini? Adakah yang tersisa dalam diri kita selepas bulan keberkahan itu? Kebaikan apa yang membekas selepas Ramadan? Apakah amal-amal saleh kita lenyap seiring berganti bulan?
Bukankah azan yang bulan kemarin kita dengar adalah seruan yang sama hari ini?
Bukankah masjid yang bulan kemarin kita datangi masih menjadi tempat ibadah agama kita hari ini?
Bukankah Alquran yang bulan kemarin kita baca masih menjadi kitab yang kita percayai hari ini?
Bukankah Allah yang bulan kemarin kita sembah dan yakini adalah Tuhan yang sama yang kita imani hari ini?
Padahal tiada seorang pun yang berani memastikan bahwa seluruh amal ibadah dan kebaikan kita di bulan lalu diterima Allah. Jangan-jangan kita merugi. Atau malah celaka. Sebab dosa-dosa kita ternyata belum diampuni.
Para sahabat nabi mengajarkan agar menjaga dan merawat Ramadan dalam hati kita dengan rasa khauf dan raja'; khawatir dan terus berharap. Kemudian berupaya istiqamah dalam amal-amal saleh sehingga mewujud menjadi kebiasaan dan akhlak yang mulia.
Kun rabbaniyyan, wa la takun ramadhaniyyan.
Semoga kita menjadi insan rabbani, yang konsisten beribadah di setiap waktu. Bukan insan ramadani, yang kuat beribadah hanya kala Ramadan tiba.
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.
Comments
Post a Comment