Skip to main content

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)




Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum muda. Puncaknya pada 2020-2035 nanti Indonesia diprediksi menikmati fenomena bonus demografi, dimana penduduk berusia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 65% dari jumlah seluruh penduduk negeri ini. Jumlah ini tentunya berpotensi menjadi berkah untuk melesatkan Indonesia menuju negara maju. Namun, tidak menutup peluang untuk berbalik menjadi musibah jika lapangan usaha yang tersedia tidak mampu menyerap tenaga kerja ini. Bahkan dapat menjadi bumerang sekaligus beban sosial dan ekonomi bagi negara kalau penduduk produktif ini bukanlah mereka yang unggul dan berdaya saing global.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pada Agustus 2016 hingga Agustus 2017 terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia. Ironisnya,  sebanyak 22,02% dari jumlah tersebut adalah lulusan SMA. Kemudian sebanyak 19,20% merupakan lulusan SMK. Lantas, apakah kita masih boleh optimis terhadap nasib bangsa ini?

Bangun Pemuda dari Desa

Pemahaman dan kondisi di atas menggerakkan saya dan empat kawan saya yang lain untuk menginisiasi Cassava Bogor Ethnic (Cassaboe), sebuah proyek sosial rintisan yang dimulai sejak akhir 2016 silam. Proyek yang sempat memperoleh dukungan dana dari Kemenristekdikti lewat Program Kreativitas Mahasiswa ini menjadi langkah kecil kami untuk mengabdi dan melakukan perubahan dari desa dengan memberdayakan pemuda setempat untuk mengolah batang singkong menjadi produk bernilai jual tinggi. Upaya yang kami harapkan mampu membentuk generasi muda yang produktif sehingga membantu meningkatkan perekonomian desa.

Mengapa desa? Sebab kemiskinan tersentralisasi dan tersebar di desa. Data BPS pada Maret 2017 menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin desa jauh lebih tinggi ketimbang penduduk miskin perkotaan, yakni 13,93% berbanding 7,72%. Selain itu,  desa seharusnya menjadi wahana berkarya bagi kaum muda yang bersemangat tinggi, berpikiran terbuka, dan memiliki akses luas terhadap teknologi informasi. Keberhasilan memajukan desa kini berada di tangan pemuda.

Oleh karena itu, Cassaboe mengajak pemuda-pemudi Desa Wargajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor untuk bersama-sama memelopori pengembangan ekonomi kreatif melalui pembuatan kerajinan khas Bogor dari batang singkong tak terpakai. Cassaboe adalah wujud sederhana untuk membantu merangkai asa pemuda di Desa Wargajaya agar dapat berpenghidupan yang layak dan sejahtera.

Desa Wisata Berdaya untuk Dunia

Pengalaman membersamai aktivitas sosial dengan kaum muda di Desa Wargajaya sedikit banyak membuka wawasan saya mengenai potensi tersembunyi yang terdapat di wilayah pedesaan. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang hingga hari ini menawarkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara.  Semangat gotong royong yang mengakar kuat dan keindahan alam nan tenteram adalah modal unggul yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan. Selaras dengan itu, keunikan tradisi dan budaya lokal semakin menambah nilai jual desa sebagai destinasi wisata kaum urban.

Tentu, dengan jumlah desa di Indonesia yang mencapai lebih dari 74 ribu, pengembangan desa wisata tidak dapat dipandang sebelah mata. Sektor ini sejatinya mampu menunjang pendapatan daerah di berbagai provinsi sehingga muaranya adalah perbaikan ekonomi masyarakat. Selain bidang ekonomi, bidang lain seperti pendidikan, kesehatan, dan budaya semestinya juga mendapat atensi yang tidak kalah besarnya.

Maka, realita dan pengalaman tersebut mendorong saya dan seorang kawan untuk mengimplementasikan suatu gagasan. Sebuah konsep pengabdian kepada masyarakat berbentuk kegiatan sosial untuk mengembangkan desa wisata potensial. Usaha berbasis profit dan berorientasi sosial ini bergerak dengan nama Filantrip.


Bersama Filantrip kami menginginkan adanya desa wisata berdaya yang mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Di samping itu, Filantrip berupaya menjadi jembatan penghubung orang-orang berniat mulia yang hendak berbagi kebaikan berkesinambungan dengan masyarakat pedesaan. Bentuk kebaikan tersebut dapat berupa donasi, mengajar, melayani urusan kesehatan, hingga pelatihan keterampilan.

Saya meyakini kontribusi yang telah, sedang, dan akan saya berikan untuk negeri ini tidak akan ada apa-apanya tanpa pihak yang mendukung dan sedia diajak bekerja sama. Maka saya bersyukur lagi berterima kasih kepada pembaca yang berkenan membaca tulisan ini hingga akhir. Besar harapan agar kontribusi-kontribusi positif yang kita semua lakukan dapat bermanfaat seluas-luasnya dan menjadi sarana menuju sebaik-baik manusia

*Tulisan merupakan esai untuk memenuhi persyaratan mendaftar seleksi Bakti Nusa 2018. Tulisan ini juga dimuat di https://www.selasar.com/answer/79336/Kontribusi-apa-yang-bisa-kamu-berikan-kepada-Bangsa-dan-Negara-ini-sekarang-dan-yang-akan-datang

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup

Perjalanan kita menjadi pantas diikhtiarkan sebab kita tahu betul kemana kita akan menelusuri arah. Meski dalam prosesnya akan banyak sekali onak dan duri. Namun, tapak kaki kita terlalu kuat untuk menjejak. Perjalanan ini akan terus kita perjuangkan. Walau di persimpangan nanti kita mungkin berjumpa kawan yang perjalanannya terlihat lebih menyenangkan. Tak sedikitpun goyah apalagi kalah. Karena kita sadar setiap kita memiliki zona waktunya masing-masing. Langkah-langkah kecil kita pantang surut, tak kenal henti. Kendati kita seolah merasa berjalan menuju tak berujung. Tapi kita percaya setiap yang memiliki awal akan berakhir. Betapa perjalanan kita menyajikan hikmah yang begitu melimpah. Tentang bagaimana menjiwai aktivitas dengan sepenuh hati. Tentang belajar melepaskan sesuatu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Tentang meninggalkan kenyamanan yang melenakan. Perjalanan memang selayaknya membuat kita bertumbuh. Sebab ujian-ujian perjalanan yang berhasil kita lalui adalah a...

Ujian

Ujian merupakan keniscayaan yang dihadapi setiap makhluk-Nya. Entah itu ujian kenikmatan ataupun ujian kesukaran, ujian yang menuntut kesyukuran maupun ujian yang membutuhkan kesabaran. Sesulit apapun ujian yang kita terima, yakinlah ujian itu memang untuk kita. Jika terasa berat, maka sesungguhnya kita sedang dipaksa untuk mengeluarkan kemampuan terbaik kita yang mungkin selama ini tersimpan tak digunakan. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kadar kemampuannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Pun dengan iman. Keimanan kita akan diuji sesuai dengan kadarnya. Ujian bagi iman yang lemah tidak akan jauh dari hal-hal kecil. Begitu juga sebaliknya, iman yang kuat akan diuji dengan hal yang lebih serius. Kita tahu bahwa iman yang kuat adalah lebih utama. Sungguh malang bila kita terus disibukkan oleh masalah sepele yang tak kunjung usai. Maka curigalah bila kita tidak jua beranjak dari masalah-masalah yang kecil dan mudah. Karena semakin tinggi pohon akan semaki...

Ramadan Buat Apa?

Kalau di bulan Ramadan kita masih sempat bermalas-malasan tilawah, bagaimana di luar Ramadan? Kalau di bulan yang penuh berkah ini kita enggan sedekah, bagaimana di bulan-bulan yang lain? Kalau di bulan yang setan-setan dibelenggu saja kita masih gampang bermaksiat, bagaimana di bulan lain yang godaannya justru lebih dahsyat? Kalau di bulan ini kita masih suka membuang waktu untuk hal yang sia-sia, lantas kapan kita bisa jadi umat yang produktif? Jadi, Ramadan ini buat apa?