Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.
Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.
Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.
Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.
Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.
Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.
Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa tertinggal. Hadirnya kita menjadi penggembira sesaat. Atau mungkin tidak berdampak apa-apa.
Betapa kita kerap kali hadir tapi tidak menghadirkan yang lain. Hadir dalam kelas tapi tidak menghadirkan diri kita untuk menyerap ilmu. Ikut rapat tapi tidak menghadirkan diri kita dalam upaya penyelesaian masalah. Berada di rumah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai anggota keluarga yang selalu dinanti ceritanya. Beribadah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai hamba yang tiada berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Hidup tapi menihilkan Allah yang memberi kehidupan.
Padahal sejatinya setiap elemen kehidupan dibangun dengan utuh, penuh, dan menyeluruh. Yang kita perlukan hanyalah melakukan segala sesuatu dengan fokus. Mencurahkan cukup sumber daya sesuai tempatnya, tepat pada waktunya.
Mari tidak setengah-setengah. Karena setengah sama dengan musnah.
Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.
Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.
Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.
Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.
Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.
Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa tertinggal. Hadirnya kita menjadi penggembira sesaat. Atau mungkin tidak berdampak apa-apa.
Betapa kita kerap kali hadir tapi tidak menghadirkan yang lain. Hadir dalam kelas tapi tidak menghadirkan diri kita untuk menyerap ilmu. Ikut rapat tapi tidak menghadirkan diri kita dalam upaya penyelesaian masalah. Berada di rumah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai anggota keluarga yang selalu dinanti ceritanya. Beribadah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai hamba yang tiada berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Hidup tapi menihilkan Allah yang memberi kehidupan.
Padahal sejatinya setiap elemen kehidupan dibangun dengan utuh, penuh, dan menyeluruh. Yang kita perlukan hanyalah melakukan segala sesuatu dengan fokus. Mencurahkan cukup sumber daya sesuai tempatnya, tepat pada waktunya.
Mari tidak setengah-setengah. Karena setengah sama dengan musnah.
Comments
Post a Comment