Skip to main content

Kematian


Berita kematian teman, kerabat, dan orang-orang terdekat yang dikabarkan di grup obrolan maupun lewat pesan pribadi akhir-akhir ini seakan memaksa untuk direnungi. Peristiwa yang (seharusnya) menjadi peringatan dan memberikan pelajaran bagi setiap insan.

Bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Ia tidak memilih waktu. Ketika telah ditetapkan maka kita tinggal menunggu giliran. Maka betapa bodohnya kita jika tetap larut dalam kesia-siaan dan menikmati kemaksiatan.

Bahwa kematian adalah perpisahan ruh dan jasad. Ia tidak menilai penampilan. Sebab kelak yang dihisab adalah amal dan ibadah. Maka betapa ruginya kita andai terlalu sibuk mencari kekayaan, membanggakan jabatan, dan hal duniawi yang penuh kefanaan.

Bahwa syarat mati itu tidak harus tua. Ia tidak melihat usia. Siapa pun tak kan kuasa menolaknya jika saatnya tiba. Maka betapa angkuhnya kita bila masih terlena pada kehidupan dunia dan kesenangan masa muda.

Bahwa kematian adalah kepastian. Ia begitu dekat bagi setiap jiwa yang bernyawa. Maka jadilah secerdas-cerdasnya insan: yang paling banyak mengingat mati dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

Kematian memang misteri. Kita tidak pernah tahu kapan, dimana, bersama siapa, dan bagaimana ketika kematian menemui kita.

Tapi kita punya keleluasaan untuk memilih cara bagaimana kita mati dengan menjaga.
Menjaga setiap perasaan, lisan, dan perbuatan.
Menjaga diri agar jalan kematian kita merupakan jalan terbaik.
Menjaga Allah supaya Dia senantiasa menajaga kita dan mematikan kita dalam ketaatan dan ketakwaan.

Karena, sungguh, kematian tidak menuntut apapun kecuali kesiapan.

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup

Perjalanan kita menjadi pantas diikhtiarkan sebab kita tahu betul kemana kita akan menelusuri arah. Meski dalam prosesnya akan banyak sekali onak dan duri. Namun, tapak kaki kita terlalu kuat untuk menjejak. Perjalanan ini akan terus kita perjuangkan. Walau di persimpangan nanti kita mungkin berjumpa kawan yang perjalanannya terlihat lebih menyenangkan. Tak sedikitpun goyah apalagi kalah. Karena kita sadar setiap kita memiliki zona waktunya masing-masing. Langkah-langkah kecil kita pantang surut, tak kenal henti. Kendati kita seolah merasa berjalan menuju tak berujung. Tapi kita percaya setiap yang memiliki awal akan berakhir. Betapa perjalanan kita menyajikan hikmah yang begitu melimpah. Tentang bagaimana menjiwai aktivitas dengan sepenuh hati. Tentang belajar melepaskan sesuatu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Tentang meninggalkan kenyamanan yang melenakan. Perjalanan memang selayaknya membuat kita bertumbuh. Sebab ujian-ujian perjalanan yang berhasil kita lalui adalah a...

Ujian

Ujian merupakan keniscayaan yang dihadapi setiap makhluk-Nya. Entah itu ujian kenikmatan ataupun ujian kesukaran, ujian yang menuntut kesyukuran maupun ujian yang membutuhkan kesabaran. Sesulit apapun ujian yang kita terima, yakinlah ujian itu memang untuk kita. Jika terasa berat, maka sesungguhnya kita sedang dipaksa untuk mengeluarkan kemampuan terbaik kita yang mungkin selama ini tersimpan tak digunakan. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kadar kemampuannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Pun dengan iman. Keimanan kita akan diuji sesuai dengan kadarnya. Ujian bagi iman yang lemah tidak akan jauh dari hal-hal kecil. Begitu juga sebaliknya, iman yang kuat akan diuji dengan hal yang lebih serius. Kita tahu bahwa iman yang kuat adalah lebih utama. Sungguh malang bila kita terus disibukkan oleh masalah sepele yang tak kunjung usai. Maka curigalah bila kita tidak jua beranjak dari masalah-masalah yang kecil dan mudah. Karena semakin tinggi pohon akan semaki...

Ramadan Buat Apa?

Kalau di bulan Ramadan kita masih sempat bermalas-malasan tilawah, bagaimana di luar Ramadan? Kalau di bulan yang penuh berkah ini kita enggan sedekah, bagaimana di bulan-bulan yang lain? Kalau di bulan yang setan-setan dibelenggu saja kita masih gampang bermaksiat, bagaimana di bulan lain yang godaannya justru lebih dahsyat? Kalau di bulan ini kita masih suka membuang waktu untuk hal yang sia-sia, lantas kapan kita bisa jadi umat yang produktif? Jadi, Ramadan ini buat apa?