Berita kematian teman, kerabat, dan orang-orang terdekat yang dikabarkan di grup obrolan maupun lewat pesan pribadi akhir-akhir ini seakan memaksa untuk direnungi. Peristiwa yang (seharusnya) menjadi peringatan dan memberikan pelajaran bagi setiap insan.
Bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Ia tidak memilih waktu. Ketika telah ditetapkan maka kita tinggal menunggu giliran. Maka betapa bodohnya kita jika tetap larut dalam kesia-siaan dan menikmati kemaksiatan.
Bahwa kematian adalah perpisahan ruh dan jasad. Ia tidak menilai penampilan. Sebab kelak yang dihisab adalah amal dan ibadah. Maka betapa ruginya kita andai terlalu sibuk mencari kekayaan, membanggakan jabatan, dan hal duniawi yang penuh kefanaan.
Bahwa syarat mati itu tidak harus tua. Ia tidak melihat usia. Siapa pun tak kan kuasa menolaknya jika saatnya tiba. Maka betapa angkuhnya kita bila masih terlena pada kehidupan dunia dan kesenangan masa muda.
Bahwa kematian adalah kepastian. Ia begitu dekat bagi setiap jiwa yang bernyawa. Maka jadilah secerdas-cerdasnya insan: yang paling banyak mengingat mati dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Kematian memang misteri. Kita tidak pernah tahu kapan, dimana, bersama siapa, dan bagaimana ketika kematian menemui kita.
Tapi kita punya keleluasaan untuk memilih cara bagaimana kita mati dengan menjaga.
Menjaga setiap perasaan, lisan, dan perbuatan.
Menjaga diri agar jalan kematian kita merupakan jalan terbaik.
Menjaga Allah supaya Dia senantiasa menajaga kita dan mematikan kita dalam ketaatan dan ketakwaan.
Karena, sungguh, kematian tidak menuntut apapun kecuali kesiapan.

Comments
Post a Comment