Sejatinya, kita tidak memerlukan anggapan dan persepsi orang lain. Bagaimana orang lain memandang dan menilai diri kita bukan merupakan hal yang penting.
Sebaik apapun anggapan manusia tak akan menambah kemuliaan diri kita. Begitu pula sebaliknya, betapa pun buruk persepsi orang lain terhadap kita tidak lantas membuat kita hina.
Karena kemuliaan sama sekali bukan terletak pada apa yang tampak dan dilihat sesama. Hanya iman dan takwa yang meninggikan derajat manusia.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali-Imran: 139)
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al Hujurat: 13)
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali-Imran: 139)
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al Hujurat: 13)
Penilaian yang utama adalah penilaian dari Allah semata. Pujian, tepuk tangan, dan penghargaan manusia menjadi tidak berarti apa-apa jika tak mendapat ridho-Nya.
Maka berkaryalah sebab mengharap ridho Ilahi. Bukan menanti dipuji dan dihargai sana sini.
Berbuatlah karena Sang Pencipta. Bukan karena dia, mereka, atau hamba lainnya.
Cukuplah Allah sebagai saksi dan penilai kita. Bukankan Allah hakim seadil-adilnya?
Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diinik wa 'ala tho'atik.
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu.
Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diinik wa 'ala tho'atik.
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu.

Comments
Post a Comment